Workshop Konsultasi Penerjemah Dan Penulisan Konteks Indonesia

Acara wrokshop UNESCO bersama Fisipol UGM pada hari selasa, 29 Januari 2019 banyak berfokus pada literasi media dan kondisi media saat ini. Dengan buku panduang Journalism, Fake News and Disinformation yang disesuaikan dengan konteks Indonesia. Diharapkan peran jurnalis di era digital ini lebih elegan karena memahami seluk beluk disinformasi yang terjadi. Dan ke depan, buku ini bisa menjadi referensi baik untuk para akademisi, jurnalis, dan penggiat literasi media dan digital.

Workshop ini dibagi ke dalam 7 bahasan untuk tiap modul dalam buku. Modul pertama membahas tentang Truth, Trust and Journalism. Baik akademisi dan jurnalis dimintai tanggapan tentang posisi media, sosial media, dan publik dalam memahami kebenaran. Dan semua sepakat bahwa era post-truth terjadi di Indonesia saat ini.

Modul ke dua membahas Information Disorder. Mirip dengan modul ke satu, perspektif post-truth masih dibahas. Terutama kian nyata saat menyoroti hoaks dan polarisasi politik di sosial media.

Modul ke tiga membahas News Industry Transformation. Media saat ini tidak mudah bergantung pada jumlah oplah dan pelanggan. Namun dunia digital menyediakan tidak saja distribusi. Namun juga disrupsi informasi baik dari portal berita abal-abal atau berita viral melalui sosial media. Peserta baik jurnalis dan akademisi setuju perlunya perombakan perspektif peran jurnalis dan media dalam diseminasi informasi.

Modul ke empat membahas tentang Media and Information Literacy. Bagaimana peran media dan jurnalis, serta akademisi dalam memberikan arti literasi informasi dan media. Beberapa media telah memberikan kursus online tentang literasi media dan informasi.

Modul ke lima membahas soal Fact-Checking 101. Baik media dan pegiat literasi urun rembug menyoal mengungkap fakta. Mafindo dan Tirto bercerita banyak tentang prosedur cek fakta.

Modul ke enam membahas Social Media Verification. Dimana fokus fact-check dalam sosial media harus real-time dan menyeluruh. Karena berita bohong begitu banyak dan kadang sulit untuk didebunk secara detail.

Modul ke tujuh yang terakhir membahas tentang Combatting Online Abuse for Journalist. Banyak jurnalis dalam forum ini masih mengutarakan keprihatinannya menyoal persekusi pada jurnalis. Baik offline atau online, persekusi kepada para jurnalis masih sering terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *