Mafindo bersama Radio Suara Pendidikan 90,2 FM dalam “Milenial Anti Hoaks”

Minggu (18/11/2018) menjadi satu lagi hari dimana teman-teman Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) berbagi ilmu dan pengetahuan tentang hoaks kepada publik. Dua member aktif dari MAFINDO Mojokerto dan seorang member aktif dari MAFINDO Jombang bertemu sebagai narasumber dalam sebuah sesi siaran di Radio Suara Pendidikan 90.2 FM, Sengon, Jombang. Bukan hanya membahas tentang hoaks, tapi juga kaitannya dengan generasi yang paling familiar dengan sarana penyebar hoaks terbesar.

Yap, milenial. Generasi yang lahir di era 1980-an dan 1990-an ini rupanya punya potensi besar untuk terpapar hoaks. Faktor pendukung utamanya tentu karena kelompok generasi ini adalah yang paling ahli mengoperasikan fitur-fitur teknologi digital, sarana penyebar hoaks terbesar yang telah disebutkan sebelumnya.

Selama satu setengah jam, tepatnya mulai pukul 15.30 hingga pukul 17.00, teman-teman dari MAFINDO membahas serba-serbi hoaks dan milenial bersama seorang penyiar dari Radio Suara Pendidikan Jombang 90.2 FM yang akrab disapa Kak Syafrul. Sesi siaran yang berformat obrolan santai ini berlangsung cukup lancar, sekali pun kedua narasumber dari MAFINDO Mojokerto, salah satunya adalah saya, sempat mengaku bahwa itu adalah pengalaman perdana mereka untuk berkontribusi dalam sebuah sesi siaran radio.

Topik yang dibahas oleh Kak Syafrul dan ketiga narasumber dari MAFINDO sangat beragam mulai dari hoaks sebagai information disorder dalam berbagai perspektif generasi milenial. Di sini narasumber menyampaikan apa itu hoaks berdasarkan kacamata masing-masing, salah satunya mengenai definisi hoaks hingga alasan kita terperangkap dalam siklus persebaran informasi hoaks, yakni karena adanya confirmation bias, echo chamber, dan era post-truth dari pihak si penerima hoaks.

Topik bahasan berikutnya adalah mengenai media sosial yang paling punya potensi untuk menjadi sarana penyebar hoaks. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami mulai berdiskusi dengan mengerucutkan media sosial yang paling sering digunakan oleh generasi milenial karena otomatis medsos itulah yang punya potensi menjadi sarana penyebar hoaks terbesar. Dalam diskusi tersebut kami membandingkan di antara dua media sosial yang cukup tinggi jumlah pemakainya, Instagram dan Facebook. Setelah membahas mengenai karakteristik dari masing-masing medsos tersebut, kami akhirnya sepakat bahwa di antara keduanya Facebook-lah yang paling rawan menjadi media penyebar hoaks.

Obrolan yang mengalir berikutnya bisa dibilang lebih ringan karena pertanyaan yang diajukan adalah seputar “relasi” para narasumber MAFINDO sebagai generasi milenial dengan aplikasi di gawai masing-masing. Mulai dari media sosial apa yang paling sering dikunjungi dan alasannya, kemudian pemakaian kuota internet masing-masing dalam sebulan, hingga pendapat narasumber tentang akibat maraknya isu hoaks yang beredar di lingkungan sosial mulai dari lingkungan tempat tinggal hingga lingkungan akademisi atau perkuliahan.

Sempat juga tercetus pertanyaan dari pendengar melalui aplikasi chat Whatsapp yang cukup sulit dijawab oleh para narasumber karena kealpaan narasumber dalam menyediakan hasil riset termutakhir mengenai kegiatan yang dilakukan oleh milenial selama surfing di dumay alias dunia maya. Beruntung, narasumber mempersiapkan diri dengan beberapa data riset yang meskipun bukan digawangi oleh organisasi kami sendiri, namun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Riset tersebut dibuat oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada tahun 2016 yang menyebutkan bahwa kegiatan yang dilakukan generasi milenial dengan gawainya berturut-turut mulai dari hasil terbanyak adalah mengupdate informasi, kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan mengisi waktu luang.

Pada sesi yang terakhir, masing-masing narasumber menyampaikan pesan untuk membekali para milenial dalam menghadapi teror hoaks. Mulai dari cara mengidentifikasi hoaks, yang terdiri dari tiga langkah berikut:

• Membaca isi berita sampai tuntas.
Jangan hanya karena judul berita terdengar sensasional, provokatif, dan “mendesak” untuk dibagikan lantas jari menjadi lebih cepat bertindak daripada otak. Setidaknya baca hingga tuntas untuk mengetahui konten apa sih yang sebenarnya sedang kita sebarluaskan.
• Membandingkan 2 hingga 3 sumber berita.
Langkah selanjutnya yang tak kalah penting ketika menerima suatu informasi adalah membandingkan isinya dengan 2 hingga 3 platform berita yang punya kredibilitas tinggi sebagai penyedia berita yang terpercaya. Hal ini bisa meminimalisir milenial dari paparan berita hoaks yang terkadang terlalu dilebih-lebihkan atau ditambahi dengan bumbu-bumbu yang membuat chaos.
• Membuka laman-laman milik organisasi anti hoaks
Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan; atau untuk melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh organisasi tersebut. Perlu diketahui, biasanya dalam forum-forum diskusi yang ada dalam laman tersebut biasanya semua anggota bisa berkontribusi untuk menganalisa suatu berita sehingga grup bisa berfungsi selayaknya crowdsourcing dengan memanfaatkan tenaga banyak orang.

Terakhir dan tak kalah pentingnya, ketika menemukan suatu informasi hoaks, generasi milenial harus aktif memeranginya dengan cara melaporkan melalui langkah-langkah berikut:

• Melalui fitur report pada akun media sosial
Pengguna media sosial mulai dari Facebook, Instagram, hingga Twitter tentu sering melihat adanya tombol bertuliskan report status atau report tweet di tiap postingan status milik pengguna yang beredar. Bila menemui indikasi hoaks pada suatu postingan, kita seharusnya aktif mengambil tindakan untuk melaporkan. Sebab aduan yang diberikan akan membantu memberikan sinyal kepada pihak pengembang untuk segera menghapus postingan yang meresahkan tersebut.
• Melalui kelompok anti hoaks
Salah satunya adalah MAFINDO yang menyediakan laman turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoaks dari warganet sekaligus juga berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoaks.
• Melapor ke Kementerian Kominfo
Bisa dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *